Dalam kehidupan ini tak bisa dielakkan kebutuhan manusia akan harta untuk menopang kehidupannya. Kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk kelangsungan kehidupan manusia. Kebutuhan akan harta ini kadang membuat manusia lalai. Seolah-olah dengan harta semua bisa selesai. Seakan dengan harta semua permasalahan bisa teratasi. Karenanya banyak manusia yang disibukkan untuk mencari harta siang dan malam. Kadang hingga mengabaikan perkara halal dan haram. Upaya mencari harta ini bukan semata karena dorongan kebutuhan untuk mencukupi kebutuhan hidup melainkan lebih banyak didorong oleh kecintaan kepada harta. Ini dibuktikan dengan adanya sebagian orang yang mengumpulkan harta bukan karena harta itu diperlukan olehnya, tetapi karena keinginan untuk mengumpulkan dan bermegah-megahan dengannya.
Peringatan Allah soal Kecintaan kepada Harta
Mengenai kecintaan harta dan kemudian bermegah-megahan dengannya telah diingatkah Allah dalam al- Quran :
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakinniscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ´ainul yaqin. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 1-8)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan : bahwa Ibnu Abu Hatim telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id, dari Abu Usamah, dari Saleh Ibnu Hibban, dari Abu Buraidah, Bahwa Surat ini diturunkan berkenaan dengan dua kabilah Ansar (Bani Haritsah dan Banil Harits), di mana mereka saling membanggakan diri dengan harta-harta mereka yang banyak, hingga turunlah firman Allah Ta'ala dalam surat at-Takatsur.
Kemudian Imam Ibnu Katsir mengatakan : Allah Subhanahu wata'ala berfirman : bahwasanya kalian sering sekali disibukan oleh kecintaan terhadap hal-hal yang bersifat duniawi dan kesenangan akan berbagai perhiasan yang ada di dalamnya, sehingga mengakibatkan kalian melalaikan bahkan melupakan terhadap upaya untuk mencari kebahagiaan akhirat. Ketahuilah, bahwa obsesi memburu kesenangan dunia, mengejar kesuksesan dunia hanya akan berdampak pada terabaikannya urusan-urusan akhirat, hingga tanpa disadari maut datang menjemput dan kalian dimasukkan ke dalam kubur.
Harta yang paling berharga
Sebagai orang-orang yang meyakini hari perhitungan dan pembalasan semestinyalah kita tidak terlena oleh kecintaan kepada harta. Kecintaan kita terhadap harta seharusnya dibingkai oleh orientasi kehidupan akhirat kita. Harta yang kita usahakan setiap hari haruslah menjadi sarana kita untuk mengapai kebahagiaan di kehidupan abadi kita yaitu di kampung akhirat. Di samping itu keberlimpahan harta yang ada pada diri seseorang bukan semata-mata karena hasil kerja kerasnya. Melainkan karena karunia Allah kepadanya, dan itu ada hisabnya di akhirat kelak. Bekerja sekeras apapun jika Allah berkehendak membatasi rezekiNya kepada seorang hamba maka tak ada satu kekuatanpun yang akan mengubahnya. Kesadaran akan hal ini yang sering dilupakan sehingga orang cenderung begitu bernafsu untuk mengejar harta. Lain halnya bagi orang yang menyadari bahwa semua adalah pemberian Allah, mereka akan mensyukuri berapapun yang Allah karuniakan kepadanya. Mereka tak putus asa ketika diuji dengan kekurangan harta, karena bagi mereka harta bukan segala-galanya.
Sesungguhnya ada harta yang lebih berharga daripada keberlimpahan materi. Harta ini bisa diupayakan oleh siapa saja, baik dia kaya maupun miskin. Harta ini bahkan lebih berarti bagi mereka yang merindukan kebahagian akhirat. Harta itu adalah menyampaikan dakwah kepada seseorang kemudian Allah berkenan memberikan hidayah kepadanya karena dakwah itu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jalanlah perlahan-lahan ke depan hingga kalian sampai di tengah-tengah mereka. Kemudian dakwahilah mereka pada Islam dan kabari mereka tentang perkara-perkara yang wajib. Demi Allah, sungguh jika Allah memberi hidayah pada seseorang lewat perantaraanmu, maka itu lebih baik dari unta merah.” (HR. Bukhari no. 3009 dan Muslim no. 2407).
Dalam hadits ini Rasulullah menyebut menyampaikan dakwah sebagai lebih baik dari unta merah. Pada masa itu unta merah merupakan binatang tunggangan yang paling berharga. Ini menunjukkan behwa melakukan dakwah sehingga seseorang mendapatkan hidayah dari Allah sebagai aktivitas yang memiliki ganjaran teramat besar. Harta paling mewah seperti unta merah (saat itu) pun kalah berharga olehnya. Ini karena harta semahal apapun hanya bisa kita ambil manfaatnya di dunia, kecuali bila kita nafkahkan di jalan Allah. Sementara hidayah yang datang melalui sebuah seruan dakwah menyelamatkan manusia bukan hanya di dunia melainkan juga di akhirat.
Jika datang kepada seorang saja melalui tangan kita ganjarannya sudah sedemikian besar apatah lagi bila banyak orang yang tercerahkan. Betapa banyak pahala para Nabi yang melalui mereka jutaan manusia mendapat petunjuk. Bagitupun pahala para sahabat Nabi dan generasi sesudahnya yang menyebarkan dakwah hingga cahaya Islam menyebar ke seluruh penjuru bumi hingga sampai kepada kita hari ini.
Kesempatan Kita Mendapat Harta Paling Berharga
Kitapun berkesempatan untuk mendapatkan harta paling berharga ini, meski mungkin kita adalah orang yang baru memiliki sedikit ilmu dan harus lebih banyak belajar. Karena menyampaikan dakwah bukan hanya kewajiban para ulama yang faqih fid diin. Kadang hidayah Allah datang kepada seseorang melalui jalan yang sangat sederhana. Meski tentu saja kita harus terus belajar agar bisa menyampaikan dakwah dengan hujjah yang kuat, sehingga membuka mata hati orang untuk menerima cahaya hidayah dari Allah. (Langgeng)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar