Setiap detik dari kehidupan kita teramat berarti. Karena setiap detik itu kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Tak sesaatpun waktu yang kita lewati selama di dunia ini melainkan ada perhitungannya di sisi Allah kecuali saat kita belum baligh, saat kita tidur, dan ketika seseorang kehilangan akal. Karenanya kita harus benar-benar memanfaatkan tiap detik yang berharga itu dengan ketaatan kepada Allah. Kita diharuskan hidup di atas jalan kebenaran yang telah ditunjukkan Allah dalam risalah yang dibawa oleh RasulNya Muhammad saw.
Betapa meruginya kita bila melewatkan sebagian atau seluruh waktu kita tanpa keimanan dan amal shalih. Hal ini sudah diingatkan oleh Allah dalam ayat yang sering kita baca, yakni di dalam surat Al-'Ashr.
"Demi waktu, sesungguhnya manusia benar benar dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling berwasiat (saling menasihati) dalam kebenaran dan saling berwasiat (saling menasihati) dalam kesabaran"
Namun sadarkah kita bahwa di antara begitu banyak amal yang kita lakukan bisa jadi ada amal yang terkategori sebagai 'aamilatun nashibah atau amal yang hanya melelahkan sebagaimana disebut di dalam surat al-Ghasiyah ayat 3? Amal yang melelahkan yaitu amal yang susah payah kita lakukan tetapi tak diterima di sisi Allah sebagai sebagai amal shalih. Ternyata sebagian sebab yang menjadikan seseorang masuk neraka karena amalan ini.
Sahabat Umar bin Khathab selalu menangis ketika mendengar ayat ini dibacakan.
Suatu hari Atha' As-Salami, seorang tabi`in (generasi setelah Shahabat Nabi) yang mulia, bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya kepada penjual kain di pasar. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan,"Wahai Atha', sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak bersedia membelinya."
Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha' termenung lalu menangis.
Melihat Atha' menangis, sang penjual kain berkata:"Atha' sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak bersedia membelinya.
Kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka baiklah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang sesuai dengan kondisi barangnya."
Mendengar pernyataan sahabatnya itu, Atha' langsung menjawab :
"Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? Ketahuilah, sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya, ternyata kain itu ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Allah, dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, bisa jadi mungkin di mata Allah ibadahku penuh cacat dan cela. Itulah yang menyebabkan aku menangis..."
Boleh jadi selama ini kita telah merasa melakukan banyak amal shalih berupa shalat, zakat, puasa, haji, berdakwah di jalan Allah, bersedekah dan sebagainya, tetapi semua amalan itu tidak bernilai di sisi Allah. Kita telah bersusah payah melakukan semua itu bahkan dengan mengorbankan waktu, harta, tenaga, mungkin juga jiwa, akan tetapi semua sia-sia.
Tertolaknya amalan itu bisa jadi karena amal itu tidak benar baik niat ataupun tata caranya, meskipun banyak jumlahnya. Maka, bukan hanya beramal dengan sebanyak-banyaknya yang mestinya kita lakukan, tapi juga beramal dengan sebenar-benarnya dan berkualitas. Karena syarat diterimanya amal adalah ketika amal itu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Hal ini sebagaimana penjelasan Fudhail bin Iyadh “Jika amalan itu ikhlas namun tidak benar maka tidak diterima. Jika benar namun tidak ikhlas maka juga tidak diterima. Amalan yang diterima adalah yang menggabungkan antara ikhlas dan benar. Ikhlas adalah beramal karena Allah dan benar adalah sesuai sunnah.” ( Majmu’ Fatawa , 3:124).
Karenanya mari kita kembali memeriksa amalan-amalan kita, apakah niat kita sudah murni ikhlas karena mengharap ridha Allah semata saat melakukannya? Ataukah masih terbersit niatan lain seperti ingin dipuji, ingin terlihat hebat atau niat yang lain?
Mari kita memeriksa kembali apakah amalan kita, kaifiah dan metodenya sudah sesuai tuntunan Rasulullah saw ataukah belum.
Mari kita terus belajar dan berbenah agar amalan kita benar-benar menjadi amal yang diterima oleh Allah. Bukan 'aamilatun nashibah atau amalan yang hanya melelahkan saja. (Langgeng)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar